oleh

Kenapa masker kain tidak efektif mencegah penularan virus?

Heydayat.com – Masker adalah alat bantu kesehatan yang berguna sebagai penyaring udara. Dalam kasus tertentu, seperti mewabahnya pandemi corona di seluruh dunia saat ini, masker memiliki fungsi utama untuk menghindari penularan virus yang tersebar melalui udara atau bersin si penderita.

Semenjak terjadinya kasus positif corona atau covid-19 pertama di Indonesia, keberadaan masker menjadi sangat sulit ditemui. Bahkan kalaupun ada pasti dihargai dengan harga yang sangat mahal.

Karena mahalnya harga masker, banyak diantara masyarakat yang mengabaikan penggunaan masker. Hingga pada akhirnya pemerintah – melalui Juru bicara pemerintah untuk penanganan khusus Covid-19, Achmad Yurianto, memerintahkan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk memakai masker (04/05/2020), kini segala jenis masker pun menjadi prioritas kebutuhan seluruh masyarakat.

Masker kain, selain keberadaannya yang sangat mudah diperoleh atau bahkan dibuat sendiri, namun kebenaran akan kemampuannya dalam mencegah penularan covid-19 banyak diperdebatkan.

Sementara banyak pernyataan bahwa masker kain tidak cukup efektif menyaring mikro partikel, berikut alasan kenapa masker kain tidak efektif untuk mencegah penularan virus :

 

Kain tidak memiliki kerapatan yang cukup untuk menyaring virus

Virus adalah mikroba yang ukurannya sangat kecil. Meskipun ukuran genom dari virus corona berkisar antara 27 hingga 34 kilobase dan merupakan yang terbesar diantara virus RNA yang diketahui, namun tetap saja mikroba ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Sebagai pembanding masker kain, masker yang banyak dicari dan direkomendasikan kalangan umum adalah masker bedah. Masker bedah diketahui memiliki tingkat efektifitas yang lebih tinggi dibanding dengan masker kain dalam menyaring mikro partikel.

Sementara itu, coba perhatikan masker kain yang anda gunakan. Untuk membuktikan bahwa kerapatan kain tidak dapat menyaring virus dapat dilakukan dengan pengamatan berikut :

Cobalah terawang masker kain ke arah cahaya. Kerapatan kain akan terlihat dari celah-celah lubang kecil sulaman kain. Akan lebih terlihat jika menerawang masker kain dengan mengarahkan senter dari balik kain tersebut. Itulah kenapa terdapat pernyataan bahwa masker kain dengan rangkap 2 hanya mampu menyaring 70% mikro partikel, termasuk virus.

Dengan ini, kesimpulan yang didapat adalah jika lubang kerapatan sulaman kain saja masih bisa terlihat, mungkinkan ia bisa menyaring virus yang merupakan makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang – karena ukurannya yang sangat kecil?

 

Ketebalan kain

Untuk mengatasi kendala kerapatan sulaman kain, sebenarnya bisa saja dengan menggunakan kain berlapis. Setidaknya dibutuhkan 4 lapis kain untuk bisa digunakan sebagai masker pencegah penularan virus.

Namun, apakah cara ini sepadan dibanding dengan efek sulitnya pengguna masker untuk bernapas? Selain itu, ukuran masker pasti akan cukup tebal untuk dipakai sehingga kurang nyaman dikenakan saat menjalani berbagai aktivitas.

Jika untuk mensterilkan masker bedah untuk penggunaan berulang bisa dilakukan dengan meletakkan tisu basah diatas masker kemudian disetrika, sementara masker kain dengan rangkap 4 mungkin hanya akan berlaku sekali pakai saja. Lapisan kain yang tebal ini memungkinkan virus tertahan di bagian dalam lapisan kain, bukannya bagian terluar.

Memilih bahan yang tepat untuk membuat masker menjadi penting. Saat ini, masker dengan bahan kain spundbond atau katun adalah pilihan yang bisa anda usahakan. Namun, pilihan terbaik untuk membuat masker sendiri adalah kapas yang dianyam rapat. Namun sayangnya masker dengan bahan kapas ini bukan pilihan baik untuk jenis masker yang bisa digunakan kembali.

Menggunakan masker disaat pandemi seperti saat ini adalah urgensi yang tidak terduga-duga. Bagi mereka yang sehat, menggunakan masker berarti menghindari tertular penyakit. Sedangkan bagi penderita, menggunakan masker berarti menghindari menularkan penyakit.

Hingga kini, masker buatan sendiri hanya dianggap sebagai upaya terakhir untuk mencegah penularan dari orang yang terinfeksi. Penelitian menyimpulkan, meski fungsinya untuk pencegahan masih tergolong rendah tetapi itu akan lebih baik daripada tidak ada perlindungan.

Untuk itu perlu adanya kontrol dari masing-masing kita, pengguna masker, untuk mempertimbangkan hal berikut agar penularan virus dapat benar-benar dihindari.

 

1. Seberapa sering masker harus dicuci?

Mencuci masker baiknya diberlakukan sama halnya seperti mencuci celana dalam, yaitu sekali pakai. Artinya masker perlu dicuci tiap kali anda selesai menggunakan/melepaskannya. Atau jika kondisinya tidak cukup layak untuk digunakan lagi, buang saja!

Jika anda memutuskan untuk menggunakan masker berbahan kain atau buatan sendiri, pastikan anda memiliki lebih dari 2 buah masker untuk bisa digunakan secara bergantian. Gunakan 1 masker untuk seharian sementara masker yang lainnya anda gunakan dihari berikutnya.

Pastikan masker dicuci sesaat setelah digunakan. Anda tidak dianjurkan untuk menyimpan masker yang baru saja anda pakai di lemari, di atas meja atau dimanapun – kemudian memakainya lagi esok hari.

 

2. Untuk kasus tertentu, jika seseorang belum memiliki masker kemudian berpapasan dengan orang yang memiliki gejala flu, batuk dan pilek, apakah menggunakan syal dapat membantu mencegah penularan virus?

Penggunaan syal bisa jadi membantu, akan tetapi risiko yang ditimbulkan juga besar. Kebanyakan syal memiliki rajutan yang longgar. Virus mungkin tidak akan langsung mendarat di permukaan wajah anda, tapi sangat mungkin jika ia mendarat di sela-sela rajutan dan berdiam disana menunggu waktu, sampai akhirnya ia bersentuhan dengan mulut atau terhirup melalui hidung.

 

3. Karena bahan dan proses pembuatannya yang tergolong mudah, Bolehkah jika membuat masker untuk didonasikan, terutama untuk rumah sakit?

Boleh, asalkan masker tidak dibuat menggunakan kain berbahan warna dominan seperti biru muda dan putih. Warna ini banyak digunakan pada masker tenaga medis pada umumnya. Akan merepotkan jika keberadaannya tercampur dengan masker khusus untuk tenaga medis. Keberadaan masker donasi ini pasti sangat berguna untuk diberikan kepada pengunjung rumah sakit atau pasien yang dirawat.

 

Perlu diingat bahwa masker berperan untuk menghalangi virus bersentuhan langsung dengan mulut atau hidung. Jadi, jika anda baru saja berinteraksi dengan seseorang dan mendapatinya bersin di hadapan anda, tugas anda adalah agar tidak menyentuh bagian depan dari masker. Ingatkan diri anda agar rajin mencuci tangan dari ujung jari hingga siku untuk menyingkirkan virus yang mungkin saja menempel di bagian tubuh tertentu.
Saat melepas masker, selalu pegang dengan ujung jari pada bagian tali masker. Setelah itu segera cuci tangan dengan sabun.

Di Amerika muncul sebutan “Masker Gagal” karena penggunaan masker yang salah. Sama seperti kebanyakan kita yang masih belum memahami, mereka biasanya menyentuh bagian depan masker saat melepasnya atau sekedar membenarkan posisinya.

Sebagai informasi tambahan, mata memiliki selaput lendir yang juga rentan menjadi media penularan virus. Menggunakan kacamata biasa mungkin tidaklah keren, tapi akan sangat membantu dalam mencegah penularan virus.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed